Just another WordPress.com site

Sasuke Uchiha

16 [www.win-7themes.blogspot.com] (3)

 

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Air adalah salah satu sumber kehidupan bagi semua makhluk yang ada di dunia. Air berperan dalam berbagai proses, seperti perbaikan cairan dalam tubuh, proses metabolisme pada tubuh hewan dan manusia, proses fotosintetis pada tumbuhan, dan sebagainya. Kebersihan air menjadi jaminan bahwa fungsi-fungsi tersebut berjalan dengan lancar. Namun, air yang ada di dunia ini mudah sekali untuk tercemar karena berbagai faktor, salah satunya adalah akibat ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab yaitu membuang limbah ke dalam air. Pembuangan limbah ini tidak hanya dilakukan oleh lingkungan perumahan saja, namun dilakukan pula oleh pelaku industri kecil, seperti bengkel motor/mobil, bahkan dilakukan pula oleh industri besar, seperti penyulingan minyak fosil. Limbah dari penyulingan mengandung agen polusi seperti phenol, minyak, sulfida, krom, logam berat, atau polusi yang menyebabkan gangguan fisik seperti perubahan suhu, pH, konduktivitas, dan bau.

Hal ini menimbulkan pertentangan antara kemajuan teknologi yang memudahkan hidup manusia dengan keadaan lingkungan yang semakin tidak nyaman karena polusi yang terjadi akibat kemajuan teknologi. Namun, sebagai makhluk yang mampu berpikir tepat dan logis, manusia bisa memecahkan masalah ini. Asumsi ini ditunjukkan dengan melihat adanya perbedaan viskositas air dan temperatur dalam proses pemisahan polutan, misalnya minyak, dari air yang dapat mempengaruhi kecepatan tetesan minyak. Viskositas merupakan ukuran ketahanan sebuah fluida terhadap deformasi atau perubahan bentuk. Prinsip viskositas ini dapat digunakan dalam proses pemisahan minyak dengan air. Kekentalan suatu zat cair dapat dihitung dengan hukum Srokes. Bilangan reynold juga dapat digunakan dalam prinsip viskositas ini dan menentukan jenis aliran fluida. Keadaan suhu pada fluida juga mempengaruhi kecepatan tetesan minyak sehingga bisa membuat minyak yang sebelumnya telah bercampur dengan air akan naik ke permukaan dan berpisah dengan air.

Dalam tulisan ini, kami mencoba untuk membahas pengaruh viskositas air, temperatur dan hubungan-hubungan lain yang berkaitan dengan pemisahan minyak dari air ini dengan kecepatan tetesan minyak secara matematis.

1.2. Tujuan

Laporan Tugas Akhir ini bertujuan untuk :

1 Mengetahui pengertian viskositas, temperatur dan bilangan reynold, serta jenis-jenis aliran fluida.

2 Mengetahui pengaruh viskositas, temperatur dan bilangan reynold pada kecepatan tetesan minyak dan upaya dalam meningkatkan kecepatan tetesan minyak dalam fluida.

3 Mengetahui hubungan antara kecepatan tetesan minyak dengan hukum stoke dan pembuktiannya sehingga dapat memisahkan minyak dari air.

1.3. Batasan Masalah

Dalam penulisan Laporan Tugas Akhir ini, penulis hanya membatasi masalah pada pengaruh viskositas air dan temperatur terhadap kecepatan tetesan minyak. Dari pembatasan masalah ini, kami pun membaginya ke dalam subbab materi, yaitu pengertian dan pengaruh viskositas, jenis aliran fluida, bilangan reynold, pengertian dan pengaruh temperatur, serta hubungan kecepatan tetesan minyak terhadap hukum stoke.

1.4. Rumusan Masalah

Dalam penulisan laporan tugas akhir ini, kami merumuskan masalah sebagai berikut.

1 Apa pengertian dan pengaruh viskositas terhadap kecepatan tetesan minyak?

2 Apa pengertian dan pengaruh temperatur terhadap kecepatan tetesan minyak?

3 Bagaimana hubungan bilangan reynold dengan kecepatan tetesan minyak sehingga menimbulkan jenis-jenis aliran?

4 Bagaimana cara penurunan hukum stoke sehingga memiliki hubungan dengan kecepatan tetesan minyak?

1.5. Hipotesis

Viskositas air dan temperatur pada fluida dapat mempengaruhi kecepatan tetesan minyak karena memenuhi persamaan hukum stoke dan bilangan reynold sehingga perubahannya dapat menimbulkan perbedaan jenis aliran.

1.6. Metodologi Penulisan

Dalam mencari informasi untuk membuat makalah ini, kami melakukan studi pustaka. Studi pustaka ini terdiri dari membaca buku yang ada di perpustakaan, mencari informasi dari internet, dan bertanya kepada orang lain tentang solusi dari masalah pengaruh viskositas air dan temperatur ini.

1.7. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penyusunan makalah ini adalah :

Bab I merupakan bagian pendahuluan. Bab ini menjelaskan latar belakang, tujuan penulisan, batasan masalah, rumusan masalah, hipotesis, metodologi, dan sistematika penulisan. Selanjutnya, Bab II merupakan bagian isi. Bagian ini membahas tentang pengertian viskositas, jenis-jenis aliran fluida, pengertian bilangan reynold, penurunan hukum stokes dengan kecepatan tetesan minyak, pengaruh viskositas terhadap kecepatan tetesan minyak dan pengaruh temperatur terhadap kecepatan tetesan minyak. Bab III merupakan bagian penutup. Bab ini memuat kesimpulan atas masalah yang muncul dan hipotesis yang telah dibuat.

BAB II

PENGARUH VISKOSITAS AIR DAN TEMPERATUR TERHADAP KECEPATAN TETESAN MINYAK

2.1. VISKOSITAS.

Viskositas fluida merupakan ukuran ketahanan sebuah fluida terhadap deformasi atau perubahan bentuk. Viskositas dipengaruhi oleh temperatur, tekanan, kohesi dan laju perpindahan momentum molekularnya. Viskositas zat cair cenderung menurun dengan seiring bertambahnya kenaikan temperatur, hal ini disebabkan gaya – gaya kohesi pada zat cair bila dipanaskan akan mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya temperatur pada zat cair yang menyebabkan berturunya viskositas dari zat cair tersebut.

Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu. Bila viskositas gas meningkat dengan naiknya temperatur, maka viskositas cairan justru akan menurun jika temeratur dinaikan. Fluiditas dari suatu cairan yang merupakan kebalikan dari viskositas akan meningkat dengan makin tingginya temperatur. Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang dinamakan viskometer.

Kita definisikan viskositas fluida, dinotasikan dengan ᶯ (“eta”) sebagai rasio tegangan geser, F/A, dengan laju tegangan :

clip_image004[1]

Fluida yang mengalir dengan mudah seperti air atau minyak tanah, memiliki viskositas yang lebih kecil daripada cairan kental seperti madu atau oli motor. Viskositas seluruh fluida sangat tergantung pada suhu, bertambah untuk gas, dan berkurang untuk cairan saat suhu meningkat (Welty, 2004).

2.2. ALIRAN FLUIDA.

Aliran dalam fluida dibedakan atas 2 jenis:

1. Aliran Laminar

Aliran Laminar merupakan aliran non turbulen suatu cairan kental yang tidak bertekanan pada lapisan di dekat suatu ujung yang gerakannya terarah, lancar, dan alirannya mulus serta semua partikel cairan bergerak membentuk garis terpisah dan bebas (secara paralel), contohnya ialah aliran lambat pada cairan kental. Dalam aliran laminar ini viskositas berfungsi untuk meredam kecendrungan terjadinya gerakan relatif antar lapisan. Aliran laminar ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut

– Terjadi pada kecepatan rendah

– Fluida cenderung mengalir tanpa adanya pencampuran lateral

– Berlapis-lapis seperti kartu

– Tidak ada arus tegak lurus arah aliran

– Tidak ada pusaran

– Untuk fluida yang mengalir secara laminar berlaku persamaan:

A1V1=A2V2

Dimana:

A1 = Luas Penampang daerah 1;

A2 = Luas penampang daerah 2;

V1 = Kecepatan aliran pada daerah 1;

V2 = Kecepatan aliran pada daerah;

2. Aliran Turbulen

Aliran dimana pergerakan dari partikel – partikel fluida sangat tidak menentu karena mengalami percampuran serta putaran partikel antar lapisan, yang mengakibatkan saling tukar momentum dari satu bagian fluida kebagian fluida yang lain dalam skala yang besar. Dalam keadaan aliran turbulen maka turbulensi yang terjadi membangkitkan tegangan geser yang merata diseluruh fluida sehingga menghasilkan kerugian – kerugian aliran. Aliran turbulen mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

– Terjadi lateral mixing

– Secara keseluruhan arah aliran tetap sama

– Distribusi kecepatan lebih seragam

Penerapan dari aliran turbulen ini salah satunya adalah dalam faktor gesekan darcy untuk saluran pipa yang terisi penuh oleh air dengan nilai bilangan Reynolds melebihi 4000, faktor gesekan Darcy didefinisikan sebagai:

clip_image005[1]

atau

clip_image006[1]

di mana:

  • f adalah faktor gesekan Darcy
  • clip_image007[1]adalah ketinggian kekasaran
  • Dh adalah diameter hidrolik; untuk pipa bulat dengan air terisi penuh, nilainya sama dengan diameternya
  • Rh adalah jari-jari hidrolik; untuk pipa bulat dengan air terisi penuh, nilainya sama dengan seperempat diameternya
  • Re adalah bilangan Reynolds

Faktor gesekan darcy ini disebabkan karena tekanan dalam pipa yang hilang akibat gesekan dari permukaan pipa yang kasar sehingga terjadi pergerakan acak aliran air didalamnya

.

2.3. BILANGAN REYNOLD.

Bilangan reynold digunakan untuk mengidentifikasikan jenis aliran yang berbeda, misalnya laminar dan turbulen. Bilangan Reynold merupakan salah satu bilangan tak berdimensi yang paling penting dalam mekanika fluida dan digunakan, seperti halnya dengan bilangan tak berdimensi lain, untuk memberikan kriteria untuk menentukan dynamic similitude. Jika dua pola aliran yang mirip secara geometris, mungkin pada fluida yang berbeda dan laju alir yang berbeda pula, memiliki nilai bilangan tak berdimensi yang relevan, keduanya disebut memiliki kemiripan dinamis. Aliran laminar terbentuk bila kecepatan aliran adalah rendah hingga bilangan Reynolds < 2000. aliran akan berubah dari laminar menjadi turbulen dalam rentang bilangan Reynolds > 3000. pada rentang 2000<Ren<3000, aliran sistem pertengahan terbentuk.

Rumus umum bilangan Reynolds adalah:

clip_image009[1]

dengan:

  • vs – kecepatan terminal fluida,
  • L – panjang karakteristik wadah,
  • μ – viskositas fluida,
  • ρ – kerapatan (densitas) fluida.

2.4 HUKUM STOKES DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KECEPATAN TETESAN MINYAK.

hukum Stokes untuk gaya gesekan – juga disebut gaya tarikan yang bekerja pada partikel berbentuk bola dengan bilangan Reynolds yang sangat kecil. Bilangan reynolds dikatakan sangat kecil karena partikel minyak yang berukuran sangat kecil. Hukum stokes pada intinya tentang gerak bola dalam fluida yang kental yang memiliki viskositas menimbulkan gaya gesek sebesar:

F d = 6clip_image011[4] Vr

Dimana Fd adalah gaya gesek dari cairan pada bola, V adalah
kecepatan bola relatif terhadap fluida, clip_image013[2] adalah koefisien viskositas dan r adalah jari-jari bola. Dengan menggunakan persamaan ini, bersama dengan persamaan terkenal lainnya fisika, kita dapat menulis ekspresi yang manyatakan tingkat di mana bola jatuh dari keadaan diam, dalam bentuk cairan kental. Untuk memulainya, kita harus menggambar diagram bebas dari partikel berbentuk bola tersebut. Pertama-tama kita mensketsa partikel tersebut dalam sebuah sistem, kemudian menguraikan gaya luar dan gaya yang bekerja didalam sistem.

clip_image014[1]clip_image015[1]

Gaya gesek (Fd)

clip_image016[1]clip_image017[1]

Gaya gravitasi (W)

Gaya Apung (Fb)

clip_image019[1]

Dari gambar diatas, maka kita mendapatkan tiga gaya yang bekerja dalam sistem tersebut, yaitu Fb, Fd, mg. dari persamaan diatas, maka terdapat dua gaya yang bekerja searah (W, Fd) dan satu gaya yang bekerja dengan arah berlawanan (Fb). pada saat kondisi setimbang, maka gaya yang bekerja pada sistem diatas adalah(penguraian berdasarkan arah gerak, yaitu keatas):

clip_image021[1]

Fb – Fd – W = 0

Fb = Fd + W

Kita tahu bahwa gaya apung (Fb) suatu benda bergantung pada volume benda tersebut. Oleh karena itu kita cari rumus persamaan dari pertikel tersebut. Karena partikel tersebut dianggap sebagai sebuah bola, maka:

Vbola = clip_image023[8]

Dengan menggabungkan masa jenis fluida dengan volume parikel, maka kita dapat menulis sebuah persamaan suatu gaya apung sebagai sebagai berikut:

mdf = clip_image025[6]fluida x Vbola …………………..1

Fb = mdf x g ……………………………2

Dari kedua persamaan diatas, maka;

Fb = clip_image025[7]fluida x Vbola x g

Fb = clip_image025[8]fluida x clip_image023[9] x g

Dimana g menyatakan percepatan gravitasi yang bekerja dalam sistem dan r menyatakan jari-jari dari pertikel yang diasumsikan berbentuk bola tersebut. Karena adanya gaya gravitasi yang bekerja pada partikel tersebut, maka kita dapat menguraikan gaya tersebut sebagai berikut:

mbola= clip_image027[6] bola x Vbola …………………1

Dari persamaan diatas, maka:

mg = clip_image027[7] bola x Vbola x g

Dengan mensubstitusi persamaan volume dari bola, maka:

W = mg

W = clip_image027[8] bola x clip_image023[10] x g

Kemudian dengan menggabungkan semua persamaan yang ada, maka:

Fb = Fd + W

[ clip_image025[9]fluida x clip_image023[11] x g ] = mg + [ 6clip_image011[5] Vr]

[ clip_image025[10]fluida x clip_image023[12] x g ] = clip_image027[9] bola x clip_image023[13] x g + [ 6clip_image011[6] Vr]

6clip_image011[7] Vr = [clip_image027[10] fluida x clip_image023[14] x g] – [ clip_image025[11]bola x clip_image023[15] x g ]

V = clip_image029[1]

V = clip_image031[1]

Hipotesis Hukum Stokes ‘didasarkan atas:

1) Partikel minyak berbentuk bola.

2)Bentuk alirannya merupakan aliran laminar.

3) Bilangan Reynolds selalu didefinisikan sekecil mungkin.

Dari hipotesis diatas, maka kita ketahui bahwa hukum stokes ini hanya bekerja pada aliran laminar saja, dimana aliran laminar ini didefinisikan sebagai kondisi dimana partikel fluida bergerak lurus melalui lamina-lamina (lapisan-lapisan cairan). Keadaan ini akan berakhir dengan timbulnya pergerakan secara acak dari pertikel tersebut (aliran turbulen). Oleh karena itu, pada kondisi akhir, digunakan perhitungan dengan bilangan reynold seperti berikut:

NR = clip_image033[1]

Simak

Dimana NR adalah bilangan reynolds, clip_image027[11] fluida adalah densitas dari fluida, V adalah kecepatan fluida relatif terhadap pertikel, L adalah panjang karakteristik suatu wadah (diameter wadah) dan clip_image013[3] adalah koefisien viskositas. Penerapan dari bilangan reynolds dalam masalah fluida adalah untuk menentukan jenis aliran fluida, apakah aliran tersebut merupakan aliran laminar atau aliran turbulen. Pada kasus dimana terdapat cairan kental yang mengalir disekitar partikel berbentuk bola, hukum stokes akan bernilai benar asalkan nilai dari bilangan reynolds kurang dari 2000 (aliran laminar) . Oleh karena itu, kegunaan bilangan reynolds sangat sesuai untuk menguji kebenaran dari hukum stokes.

2.4.1. PENGARUH VISKOSITAS AIR TERHADAP KECEPATAN TERMINAL.

Dari persamaan hukum stokes diatas, kita dapat melihat bahwa kecepatan terminal berbanding terbalik dengan koefisien viskositas, atau dapat ditulis dengan persamaan:

Vtclip_image035[2]

Maka, dapat digambar dalam suatu grafik antara kecepatan terminal (Vt) dan viskositas (clip_image037[1] sebagai berikut:

Vt

clip_image039[4]

clip_image040[1]

Dimana kondisi kecepatan terminal dan koefisien viskositasnya tidak pernah mencapai 0 (dapat dilihat dari grafik).

2.4.2. PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP KECEPATAN TERMINAL.

Sebelum membahas tentang pengaruh dari temperatur terhadap kecepatan terminal, kita akan membahas perngaruh viskositas terhadap temperatur seperti yang ditunjukkan dalam tabel:

 
  clip_image043[1]

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa semakin besar suhu air, maka semakin kecil pula viskositas dari dari tersebut, oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa suhu berbanding terbalik dengan viskositas.

Kemudian, berdasarkan hukum stokes, kita telah membuktikan bahwa kecepatan terminal berbanding terbalik dengan viskositas. Jika dikaitkan dengan pernyataan kita bahwa temperatur berbnding terbalik dengan viskositas, maka kita akan dapatkan bahwa semakin besar temperatur, maka semakin kecil pula viskositas dan jika viskositas semakin kecil, maka kecepatan terminal akan semakin besar. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa temperatur berbanding lurus dengan kecepatan terminal. Untuk menunjukkan hubungan viskositas dan temperatur, kita menerapkan hukum distribusi Maxwell-Boltzmann, jumlah molekul yang memiliki energy yang diperlukan untuk mengalir, dihubungkan oleh factor e-E/RT dan viskositas sebanding dengan e-E/RT. Secara kuantitatif pengaruh suhu terhadap viskositas dinyatakan dengan persamaan empirik,

clip_image039[5] = A e-E/RT

Dengan:

A = tetapan cairan.

(-E) = Energi ambang permol

R = konstanta boltzmann

T = temperatur (Kelvin)

Oleh karena itu, semakin besar temperatur, maka koefisien viskositasnya akan semakin kecil dengan perbandingan:

clip_image039[6] ≈ e1/T

Oleh karena itu, dengan mengetahui kedua perbadingannya, maka:

Vtclip_image035[3]

clip_image039[7] ≈ e1/T

Maka;

Vtclip_image045[1]

Vtclip_image047[1]

Dapat ditunjukkan dengan grafik sebagai berikut:

T

Vt

clip_image049[1]

Oleh karena itu, dari data dan grafik diatas kita dapat menyimpulkan bahwa viskositas berbanding terbalik dengan kecepatan terminal dan temperatur berbanding lurus dengan kecepatan terminal.

BAB III

PENUTUP

3.1.KESIMPULAN

Kecepatan tetesan minyak dipengaruhi oleh viskositas air dan temperatur. Viskositas fluida merupakan ukuran ketahanan sebuah fluida terhadap deformasi atau perubahan bentuk. Viskositas zat cair cenderung menurun seiring dengan bertambahnya kenaikan temperatur. Sehingga, kecepatan tetesan minyak pada saat tetesan minyak akan naik ke atas permukaan berbanding lurus dengan temperatur dan berbanding terbalik dengan viskositas air. Hal ini berasal dari turunan hukum stoke dan persamaan hukum stoke dapat dituliskan dengan sebagai salah satu aplikasi hukum stoke, yaitu clip_image051[1] Kemudian, hukum stoke dapat dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan bilangan Reynolds. Selain sebagai pembuktian hukum stoke, bilangan Reynolds dapat menentukan jenis aliran suatu fluida.

DAFTAR PUSTAKA

Ø http://www.grc.nasa.gov/WWW/BGH/reynolds.html (29 November 2010, 02.10)

Ø http://www.kamusilmiah.com/mesin/meredam-turbulensi-membuat-air-mengalir-jauh-lebih-cepat/ (29 November 2010, 02.35)

Ø Oil-in-Water Separation, from the state-of-the-art to ZerOil Technology, http://www.etnausa.com/zertech.pdf

Ø Fouz, Infaz (2001), Fluid Mechanics, Mechanical Engineering Dept., University of Oxford, hlm. hlm.96

Ø Hughes, Roger (1997), Civil Engineering Hydraulics, Civil and Environmental Dept., University of Melbourne, hlm. hlm.107-152

Ø Jermy, M. (2005), Fluid Mechanics A Course Reader, hlm.d5.10: Mechanical Engineering Dept., University of Canterbury

Ø Rott, N. (1990), “Note on the history of the Reynolds number”, Annual Review of Fluid Mechanics 22: hlm. 1–11

Zagarola, M.V.; Smits, A.J. (1996), “Experiments in High Reynolds Number Turbulent Pipe Flow”, AIAApaper #96-0654, 34th AIAA Aerospace Sciences Meeting, Reno, Nevada, January 15 – 18, 1996

MY PRIDE

 

 

 

makara

#include <stdio.h>
#include <math.h>
main()
{
int a,b,c,d,e,f;

printf(“masukkan angka pertama: “);
scanf(“%d”, &a);
printf(“masukkan angka kedua: “);
scanf(“%d”, &b);

e=a;
d=b;
if(a==0||b==0)
printf(“\nmaaf, anda salah input”);
else
{
while(b!=0)
{
c=a%b;
a=b;
b=c;
}
f=e*d/a;

printf(“FPBnya adalah %d\n\n”, a);
printf(“KPKnya adalah %d”, f);
}
return 0;
}

poster baru A0 copy

PUBLIC TRANSPORTATION

OUTLINE

I. Introduction

Thesis statement: public transportation in Indonesia which have bad security level are train and bus.

II. Body

A. Paragraph 2 (first sentence) topic sentence: the first dangerous public transportation in Indonesia is train

1. People usually unconcious that their wallet have stolen by pickpockets.

2. Other that that, there are many hypnotis man utilizing its expertise to hypnotize the train passengers.

B. Paragraph 3 (first sentence) topic sentence: the second dangerous public transportation in Indonesia is bus.

1. This is caused by many street musicians who pretend to entertain the passengers, but actually they’re are pickpockets.

III. Conclusion

I think, the Indonesia goverment must make some rules about the security level in pulbic transportation, so that the passangers can feel comfortable when they use it.

PUBLIC TRANSPORTATION

In Indonesia, the transportation is vey reliable to people in order to fulfill their activities everyday, like to go to, go to school, go to market, and etc. But, beside that, many people see it from the bad side too. They take advantage from the bad security level of public transportation in Indonesia to commit the crime So, i want to warn you that public transportation in Indonesia which have bad security level are train and bus.

the first dangerous public transportation in Indonesia is train. as we all know that in Indonesia, the train is very reliable with person as one long-distance public transportation. however, because many people who rely on this transportation, many are also looking for opportunities to rely on this transportation to commit a crime. one of them is a pickpocket. People who use train usually unconcious that their wallet have stolen by pickpocket. in addition, they utilize a crowd in the train to steal the wallet of the passengers. The pickpocket this did not stop committing crimes because of the very loose supervision when passengers are in train. Other that that, there are many hypnotist man utilizing its expertise to hypnotize the train passengers. the hypnotist man take advantage when the passengers feel tired so that passengers do not feel that the property which is taken have been lost.

The second dangerous public transportation in Indonesia is bus. I think we all know about the important of the bus in Indonesia. Bus is one of the most common means of transportation used by people on holiday, to school, and others. buses are very reliable in this regard. However, the bus also has the same case with train, that is about the crime of pickpocket, but the arrival of the pickpocket was unexpected. This is caused by many street musicians who pretend to entertain the passengers, but actually they’re are pickpockets. So, many passangers are misguided about the style of the pickpocket who changed himself into street musician.

`From the events above, we must becarefull to use the public transportation and i think that the Indonesia goverment must make some rules about the security level in pulbic transportation, so that the passangers can feel comfortable when they use it.

1

BAB I PENDAHULUAN

Saat ini, perilaku seks bebas bukan lagi merupakan hal yang asing bagi kalangan remaja Indonesia. Dari remaja kota yang paling ‘gaul’ hingga remaja desa yang seharusnya memiliki akses yang lebih terbatas untuk hal-hal semacam itu, semua dapat memahami atau paling tidak mengetahui beberapa hal tentang seks. Namun, begitu miris ketika mengetahui bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh mereka bukanlah pengetahuan untuk menjauhkan diri dari perilaku seks bebas, tapi malah sebaliknya. Hal tersebut terjadi karena masa remaja adalah fase transisi seorang manusia dari remaja menuju dewasa, dan fase ini menurut Calon (dalam Monks, dkk 1994) menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihannya karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak, serta menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) bahwa masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.

1. Latar Belakang

Dalam ketidakpastiannya, remaja biasanya berusaha untuk mencari tahu jati dirinya yang sejati, sehingga mereka mencari lingkungan yang dapat mengakui keberadaan mereka. Untuk itu, fase ini adalah fase yang rentan akan penyimpangan-penyimpangan sosial, salah satunya adalah seks bebas. Ada berbagai macam faktor yang turut membantu dalam proses pembentukan perilaku remaja yang menyimpang ini. Untuk itu pengkajian dari berbagai sudut pandang juga harus dilakukan untuk bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri remaja-remaja tersebut.

Metode yang kami gunakan untuk membahas masalah seks bebas ini adalah dengan memberikan landasan teori-teori dasar tentang manusia, ahlak, budi pekerti, dan masyarakat serta mengaitkannya dengan kasus dan data yang diberikan kepada kami.

BAB II ABSTRAK

Seks Bebas, sebagai salah satu masalah sosial yang hangat sekali diperdengarkan kepada masyarakat Indonesia, disebabkan oleh berbagai faktor dan ternyata merupakan sebuah masalah yang kompleks. Hal ini perlu ditinjau lebih lagi mengapa kasus ini terus terjadi. Makalah ini dibuat untuk mengetahui dari berbagai sisi apa saja yang dapat berpengaruh sehingga kasus seks bebas dikalangan remaja terus meningkat. Di Indonesia sebagai negara yang berlandaskan Pancasila, masih berlaku nilai-nilai norma dan kaidah-kaidah lain yang berlaku di masyarakat, hingga saat ini kasus seks bebas dikalangan remaja masih sangat ditentang dan dipermasalahkan oleh masyarakat Indonesia, namun belum ada aturan hukum yang jelas yang mengatur hal-hal yang menyangkut hal ini. Dengan uraian singkat ini, sementara dapat disimpulkan seks bebas di kalangan remaja masih sangat ditentang karena sangat tidak sesuai dengan norma etika namun hingga saat ini belum ada norma hukum yang berusaha mengatur permasalahan seks bebas ini.

BAB III LANDASAN TEORI MANUSIA, AKHLAK, BUDI PEKERTI, DAN MASYARAKAT, SERTA PENGKAJIANNYA PADA MASALAH SEKS BEBAS DI KALANGAN REMAJA

A. Manusia Makhluk Individu, Sosial dan Budaya

1. Landasan teori

Individu berasal dari kata latin “individuum” yang memiliki arti tidak terbagi. Individu mempunyai ciri-ciri memiliki suatu pikiran dan diri. Individu menekankan penyelidikan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang istimewa, dan seberapa mempengaruhi kehidupan manusia, (Abu Ahmadi, 1991: 23), yang berarti individu bukanlah suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas. Individu tidak mampu berdiri sendiri, melainkan hidup dalam hubungan antar sesama individu. Dengan demikian dalam hidup, manusia selalu mengadakan kontak dengan manusia lainnya. Karena itu sebagai manusia sebagai individu juga merupakan makhluk sosial yang hidup di dalam masyarakat.

Manusia sebagai seorang individu tentu terus berkembang dari sejak lahir hingga ia mati. Hal ini menjadikan manusia sebagai individu yang tidak mampu hidup sendiri, tetapi memerlukan keberadaan (baca:pengakuan) dalam sebuah kelompok sehingga individu juga merupakan mahluk sosial. Ini berarti antara individu dengan kelompok terdapat hubungan timbal balik dan hubungan yang sangat erat yang merupakan hubungan fungsional. Oleh karena itu, manusia sebagai seorang individu sepanjang hidupnya juga turut berkembang, dan banyak faktor yang menyebabkan perkembangan dalam diri manusia. Salah satu yang bisa membuat seorang individu berkembang adalah faktor lingkungan dimana dia hidup. Tetapi seorang individupun dapat saja berkemampuan untuk mempengaruhi lingkungannya. Hal ini, yaitu individu dalam tingkah laku menurut pola pribadinya, dapat diklasifikasikan menjadi tiga kemungkinan: pertama menyimpang dari norma kolektif dan kehilangan individualitasnya, kedua takluk terhadap kolektif, dan ketiga mempengaruhi masyarakat. (Hartomo, 2004: 64).

Prinsip-prinsip perkembangan pada manusia adalah sebagi berikut:

1. Perkembangan mengikuti pola-pola tertentu dan berlangsung secara teratur (fisik),

2. Perkembangan menuju diferensiasi dan integrasi (koordinasi antar organ),

3. Pertumbuhan dan perkembangan tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi berlangsung secara berangsur-angsur, secara teratur dan terus menerus.

4. Suatu tingkat perkembangan dipengaruhi oleh sifat perkembangan sebelumnya. Terlambatnya suatu tingkat perkembangan, akan menghambat pula perkembangan pada tingkat berikutnya,

5. Perkembangan, baik dalam kejiwaan maupun organ, antara anak satu berbeda dengan anak lain. (unik). (Hartomo, 2004: 69)

Perkembangan remaja tersebut dipelajari berdasarkan pengalaman (empiris). Namun dalam perkembangannya manusia dapat memposisikan dirinya sebagai mahluk individu maupun sosial. Manusia dikatakan sebagai individu saat perilakunya adalah unik dan tidak sama dengan lingkungan sekitarnya, umumnya saat bersosialisasi manusia cenderung tidak menjadi seorang yang individualis karena kebutuhan bertingkah laku yang terintegrasi dengan masyarakat di sekitarnya. Dalam kenyataannya pengalaman menunjukkan bahwa jika seseorang memiliki pengabdian yang besar kepada dirinya sendiri, maka pengabdiannya kepada masyarakt akan kecil. Hal ini juga berlaku

2. Mengkaji Kasus Seks Bebas di Kalangan Remaja

Dari segi manusia sebagai individu, konteks perilaku seks bebas terutama pada remaja terjadi karena seorang manusia memiliki berbagai macam hasrat. Hasrat tersebut timbul sebagai sesuatu yang wajar, salah satu bentuk hasrat adalah dorongan seks. Namun, perilaku individu yang kesulitan mengintegrasikan sifat dan wataknya dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat menyebabkan remaja tersebut memilih untuk mempertahankan individualitasnya dengan menyalurkan hasrat tersebut dalam bentuk seks. Penyaluran yang salah inilah yang menjadikan perilaku seks bebas semakin marak. Terutama pada anak remaja yang masih dalam masa perkembangan dalam menemukan jati dirinya sebagai seorang individu yang ingin diakui. Untuk itu manusia sebagai seorang individu membutuhkan assistensi atau bimbingan dari seorang manusia lain untuk menjaga proses perkembangan individu manusia agar tetap pada jalan yang baik.

B. Peranan Akhlak dan Budi Pekerti

1. Landasan Teori

Akhlak dapat diartikan sebagai perangai, yaitu sifat dan watak yang dimiliki seseorang dan merupakan bawaan seseorang. Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. (Rahmat Djatnika, 1992: 27). Akhlak juga dapat diartikan sebagai tingkah laku, yaitu suatu tingkah yang dilakukan oleh seseorang secara berulang-ulang sehingga tercerminkan bagaimana akhlahnya. Sedangkan, budi pekerti adalah perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermenifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia. (Rahmat Djatnika, 1992:25). Berikut adalah peranan budi pekerti :

a. Di dalam pengembangan kehidupan kerohanian dan pribadi

Dengan adanya akhlak dan budi pekerti manusia bisa mengetahui tata cara yang baik dalam berperilaku dan berkomunikasi dengan Tuhan. Akhlak dan budi pekerti terhadap Tuhan adalah berkata-kata dan bertingkah laku yang terpuji baik melalui penyembahan langsung maupun melalui perilaku tertentu yang mencerminkan komunikasi dengan Tuhan sebagai wujud penghormatan dengan Tuhan, selain itu dengan cara mengamalkan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya.

b. Dalam menghargai kehidupan

Menghargai kehidupan memanfaatkan hidup dengan hal-hal baik yang dapat menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi manusia secara umum. Dalam penerapan akhlak dan budi pekerti terdapat beberapa langkah yang harus kita lakukan dalam menghargai kehidupan :

i. Merubah orientasi hidup dengan memikirkan orang lain

ii. Meningkatkan empati kepada orang lain

iii. Banyak melepaskan energi positif : menolong orang lain

iv. Bertawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa

c. Membangun citra diri

Citra diri seseorang ditegakan dan ditentukan oleh kualitas pribadinya, sikapnya, kepribadiannya, seperti kejujuran, keadilan, rajin, tanggungjawab, disiplin, dan sikap santun serta toleran. manusia terlebih dahulu harus mengenali diri secara baik, apa kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, apa pula kekurangannya. Setelah pengenalan diri dikuasai dengan baik, maka ia melanjutkan aktivitasnya dengan memilih profesi yang tepat dengan kapasitas, kemampuan dan bakatnya. Apabila citranya baik, maka mitra usahanya akan memberikan kepercayaan yang penuh dan akan selalu berusaha untuk bekerja sama dengannya, begitu pula sebaliknya.

d. Kehidupan sosial budaya

Akhlak dan budi pekerti memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatur kehidupan sosial budaya yang terjalin di tengah masyarakat, akhlak dan budi pekerti berisi nilai-nilai yang harus menjadi pedoman bagi setiap anggota masyarakat, seperti nilai kebersamaan, tolong-menolong, keadilan, kejujuran, keindahan, dan sebagainya.

e. Dalam keluarga

Keluarga adalah dunia dan lingkungan sosial pertama yang dikenal anak, sehingga keluarga menjadi tempat dimana anak belajar menanggapi dunia luar, bersosialisasi, beradaptasi dengan lingkungan baru serta mengenal nilai, norma dan konsep baik atau buruk untuk pertama kalinya. Orang tua harus menanamkan akhlak dan budi pekerti sejak dini dengan cara mengenalkan konsep Tuhan, mengajari sopan santun, tata krama, sikap jujur, adil dan peduli sesama, supaya nantinya akan dijadikan pedoman dalam perilaku sehari-hari.

f. Dalam hubungan tetangga dan kepedulian sosial

Ingin memiliki hubungan baik dengan sesamanya adalah kodrat manusia sebagai makhluk sosial, dimulai dengan adanya rasa saling berkepentingan untuk melakukan interaksi disertai dengan rasa saling membutuhkan, maka terjalinlah hubungan antar manusia. Untuk menjaga hubungan yang berisikan orang-orang yang berkepentingan berbeda, perbedaan karakter, perbedaan latar ekonomi pendidikan dan perbedaan profesi diperlukan penerapan akhlak yang baik, seperti saling memahami perbedaan, tenggang rasa dan kepedulian terhadap sesama. Tetangga merupakan lapisan kelompok yang paling penting dalam kehidupan masyarakat, oleh karena itu, diperlukannya menjaga hubungan baik sesama tetangga agar masyarakat yang harmonis dapat terwujud.

g. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Bangsa adalah kumpulan dari masyarakat yang bersatu dalam rangka melindungi kepentingan yang tidak mungkin diatasi oleh satu kelompok. Agar tercapai persatuan dan kesatuan bangsa maka diperlukan kesadaran untuk berfikir dan melihat masa depan dengan mengatur perbedaan yang ada sebagai suatu kekuatan yang dimiliki oleh negara. Arus informasi dan komunikasi global berkembang begitu cepat, dan telah kita sadari bahwa pengaruh-pengaruh yang dating dari luar tidak semuanya baik, untuk itu setiap individu bangsa Indonesia harus membekali dirinya dengan kemampuan yang cerdas dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk serta tetap menjunjung tinggi nilai etika yang telah ditanamkan.

2. Mengkaji Kasus Seks Bebas di Kalangan Remaja

Kasus seks bebas dikalangan remaja, sudah sangat jelas merusak akhlak dan budi pekerti. Sebagaimana telah dijelaskan di atas mengenai akhlak dan budi pekerti, bahwa kasus seks bebas ini bisa terjadi karena beberapa hal, jika ditinjau dari pengembangan kehidupan kerohanian dan kepribadiannya bisa dikatakan agama bagi orang tersebut tidak melekat dalam kepribadiannya, sehingga mereka tidak bisa menjauhi larangan agama yang ada di kehidupannya.

Kasus seks bebas ini pun bisa terjadi karena remaja tersebut tidak melakukan pencitraan yang baik kepada dirinya sendiri, sehingga identitas dirinya sendiri tidak terbentuk dengan baik. Bahkan, bukan suatu hal yang mustahil bahwa seorang remaja tidak bisa menghargai dirinya sendiri karena proses pencitraan diri yang kurang baik. Alhasil, remaja tersebut memilih sebuah lingkungan kehidupan yang bisa ia jadikan sebuah pelarian, salah satunya adalah perilaku seks bebas. Pada akhirnya. kehidupan sosial budaya remaja tersebut akan terganggu karena telah mendapat nilai yang sangat buruk dalam pergaulannya, hal ini menyebakan hubungan sosial ke tetangga maupun ke masyarakat akan rusak. Selain itu, kehidupan berbangsa dan bernegara dari remaja tersebut pun akan rusak, karena bisa menggangu dalam proses mencapai suatu tujuan yang dikarenakan bisa timbul sebuah konflik yang menyebabkan terpecah-belah.

Pengaruh keluarga dalam kasus ini sangat besar. Dikarenakan sifat dasar remaja yang tidak memiliki kepastian, ini berarti orang tua dan keluarga haruslah dapat menjadi sahabat terbaik saat remaja tersebut tidak bisa diterima di lingkungan sekitarnya, sehingga orang tua dan keluarga dapat secara langsung menanamkan dan mengajarkan tentang agama, akhlak, dan budi pekerti. Jika tidak, tidak akan tercipta akhlak dan budi pekerti yang baik di dalam kehidupan remaja tersebut sehingga ia akan mengalami kesulitan untuk membedakan mana lingkungan sosila yang baik dan yang buruk, dan akhirnya mereka memilih lingkungan yang kita anggap buruk itu sebagai tempat pelarian terakhir bagi mereka.

Dari pengkajian di atas, sebenarnya terlihat jelas bahwa ternyata seorang remaja yang terjerumus dalam perilaku seks bebas merupakan seorang korban, yaitu korban atas serentetan penolakan-penolakan sosial atas dirinya. Sehingga penanaman akhlak dan budi pekerti menjadi begitu penting, karena dengan itu paling tidak remaja tersebut memiliki tempat berpegangan saat tidak ada satupun kelompok sosial di sekitarnya yang mau menerimanya.

C. Agama, Tradisi, dan Budaya

1. Landasan Teori

Secara terminologi agama dapat diungkapkan dalam pengertian:

a. Kepercayaan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.

b. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara tertentu.

c. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari sesuatu kekuatan gaib.

d. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan gaib.

e. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.

f. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul (Nabi). (Jalaluddin Rahmat, 2001: 13).

Agama sebagai sistem keyakinan juga dapat menjadi inti (pegangan) bagi sekelompok masyarakat dalam kebudayaannya, serta menjadi sistem pengontrol bagi tindakan-tindakan yang dilakukan para anggota masyarakat tersebut supaya sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya. Untuk itu, ajaran moral dari suatu agama sangatlah dianggap penting, karena ajaran-ajaran tersebut berasal dari Tuhan yang dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi yang lebih dari dirinya.

Sedangkan tradisi, adalah suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dilaksanakan secara turun temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang telah membudaya kemudian akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang. Manusia dalam berbuat akan melihat realitas lingkungan sekitarnya sebagai upaya dari sebuah adaptasi walaupun sebenarnya dia telah mempunyai motivasi berperilaku yang sesuai dengan tradisi yang ada pada dirinya.

Budaya, disisi lain, dapat didefinisikan secara luas dan sempit. Menurut, Sutan Takdir Alisyahbana, budaya dalam arti sempit adalah adat istiadat, kepercayaan, seni. Budaya dalam arti luas, melingkupi segala perbuatan manusia, kehidupan manusia sehari-hari (Maurits Simpatupang, 2002: 139-140).

2. Mengkaji Kasus Seks Bebas di Kalangan Remaja

Agama yang seharusnya berperan menjadi media pengontrol bagi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh semua manusia, tetapi ternyata belum bisa menjangkau remaja-remaja yang pada akhirnya terjerumus oleh lingkungan yang berperilaku seks bebas tersebut

D. Cinta Kasih dan Tanggung Jawab

1. Landasan Teori

Sebenarnya, sulit sekali untuk merumuskan cinta kasih secara utuh karena lebih mengandung arti psikologis yang dalam. Dalam hal ini beberapa ilmuwan hanya memberikan unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian cinta kasih, yaitu perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam dan terjadi antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan alam, dan manusia dengan dirinya sendiri. Di dalam pengertian simpati terkandung unsur pengenalan/knowledge, dan di dalam emosi terkandung unsur tanggung jawab, pengorbanan, perhatian, saling menghormati, dan kasih sayang.

Ada empat syarat utama yang harus dipenuhi untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:

a. Knowledge (pengenalan), dengan demikian yang bersangkutan akan menerima sebagaimana adanya;

b. Responsibility (tanggung jawab), yang mana masing-masing pihak mempunyai tanggung jawab yang sama;

c. Care (pengasuhan, perhatian, perlindungan, saling peduli);

d. Respect (saling menghormati). (Erich Fromm)

Hubungan yang melibatkan cinta kemudian dapat diklasifikasikan lebih jauh lagi sebagai cinta:

a. Manusia dengan Sang Pencipta, disebut Agape : pengabdian, pemujaan, disertai kepasrahan,

b. Manusia dengan manusia lain :

i. Philia, cinta persaudaraan atau persahabatan,

ii. Eros, cinta menyangkut aspek ragawi,

iii. Amor, cinta menyangkut aspek psikologis dan emosional.

c. Manusia dengan alam, menjaga dan melestarikan lingkungan.

d. Manusia dengan dirinya sendiri, mencintai diri sendiri tidak sama dengan mementingkan diri sendiri, bahkan keduanya bertolak belakang. Dengan mencintai diri sendiri, kita menyadari keberadaan kita, dan apa yang seharusnya kita lakukan.

Sedang tanggung jawab mempunyai beberapa pengertian yang antara lain adalah:

a. Kewajiban dalam melakukan tugas tertentu,

b. Sesuatu yang menjadikan kewajiban untuk dilaksanakan, dibalas dan sebagainya,

c. Kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya

Dengan berbagai status yang disandang oleh seorang manusia, untuk itu mereka mempunyai berbagai macam tanggung jawab yang dapat dikelompokkan dalam:

a. Tanggung jawab terhadap Tuhan YME

Manusia bertanggung jawab untuk mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan Tuhan sebagai akibat dari kebutuhan akan adanya aturan-aturan yang datang dari Sang Pencipta untuk menjalani kehidupannya.

b. Tanggung jawab terhadap diri sendiri

Dengan bertanggung jawab terhadap diri sendiri maka ia menunjukkan keberadaannya sebagai manusia, melangsungkan kehidupannya agar mempunyai arti sebagai mahluk ciptaan Tuhan.

c. Tanggung jawab terhadap keluarga

Setiap anggota keluarga mempunyai tanggung jawab tertentu terhadap keluarganya sebagaimana statusnya di dalam keluarga.

d. Tanggung jawab terhadap masyarakat

Manusia sebagai makhluk sosial, hidup sebagai seorang anggota masyarakat yang memiliki ketergantungan satu sama lain. Sehingga interaksi yang tercipta antar anggota masyarakat tersebut melahirkan suatu hak dan kewajiban, yang artinya setiap anggota masyarakat memiliki tanggung jawab tertentu dalam kehidupan bermasyarakatnya.

2. Mengkaji Kasus Seks Bebas di Kalangan Remaja

Saat

E. Filter Dalam Interaksi Lintas Budaya

1. Landasan Teori

Jika melihat budaya sebagaimana definisi menyebutkannya, maka fungsi budaya sebagai sumber akhlak dan budi pekerti dapat dilihat dari model-model perilaku dan komunikasi manusia dalam masyarakat pada tempat dan kurun waktu tertentu. Pengaruh budaya seringkali berproses tanpa disadari oleh yang dipengaruhinya.

Perkembangan yang sangat bebas dan tanpa batas, sebagai akibat dari interaksi lintas budaya, mengakibatkan tercampur aduknya berbagai macam nilai-nilai kehidupan, antara yang baik atau buruk, antara yang terpuji atau tercela. Hal seperti ini pasti akan membingungkan umat manusia.

Akhlak dan budi pekerti yang baik, yang telah menyatu dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat, akan berfungsi sebagai filter yang dapat menyaring dan sekaligus membedakan antara nilai-nilai yang baik dan luhur dari nilai-nilai buruk dan tercela. Memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk atau yang terpuji dan yang tercela, merupakan kemampuan yang sangat potensial untuk memfilter berbagai macam informasi dalam interaksi lintas budaya. Salah satu contoh yang dapat dijadikan sebagai filter lintas budaya di Indonesia adalah Pancasila. Pancasila mengandung seluruh inti dari jati diri bangsa Indonesia.

2. Mengkaji Kasus Seks Bebas di Kalangan Remaja

Saat ini, seks bebas telah banyak terjadi kalangan remaja di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penelitian BKKBN. Dari 100 siswa menengah atas, ditemukan 5 siswa yang telah melakukan seks bebas. Hasil penelitian ini menjadi hantaman yang keras untuk bangsa Indonesia. Indonesia mengalami degradasi budaya, dimana budaya barat kian merasuk ke dalam jati diri remaja sekarang. Oleh karena itu, nilai-nilai Pancasila harus terus ditanamkan dalam diri masing-masing individu. Dengan adanya penerapan nilai-nilai Pancasila sebagai filter dalam interaksi lintas budaya, maka kita tetap dapat mengadaptasi budaya asing yang positif tetapi kita juga dapat menyaring budaya yang negatif.

F. Norma Sosial dan Norma Hukum

1. Landasan Teori

Secara umum pengertian norma adalah segala aturan-aturan atau pola-pola tindakan, yang normatif, yang menjadi pedoman hidup bagi orang yang untuk bersikap tindak di dalam kehidupannya, baik dalam hidupnya sendiri maupun dalam pergaulan bersama. Norma-norma tersebut diyakini oleh warga masyarakat yang bersangkutan sebagai milik bersama. Bagaimana suatu masyarakat meyakini suatu norma sebagai milik bersama terlihat dalam tingkah lakunya, bagaimana mereka bisa menundukkan diri atau mematuhi norma-norma tersebut.

Norma sosial adalah aturan atau kaedah yang merupakan hasil kesepakatan bersama yang berupa suatu keharusan, anjuran, perintah, maupun larangan yang berkaitan erat dengan adat istiadat dan budaya yang berlaku di masyarakat. Sedangkan norma hukum adalah himpunan petunjuk dan kelakuan manusia dalam masyarakat yang dapat dituntut pelaksanaannya dan yang penyelenggaraannya ditindak lebih tegas atau lebih berat oleh penguasa yang sah atau pihak yang berwenang dan bersifat mengikat atau memaksa.

Apabila suatu norma sosial diberlakukan dengan paksaan suatu sanksi maka norma sosial tersebut menjadi norma hukum. Menurut E. Adamson Hoebel, suatu norma sosial adalah hukum apabila pelanggarannya atau tindakan tidak mengindahkannya secara teratur ditindak, yaitu tindakan fisik, secara ancaman atau secara nyata-nyata, oleh seseorang atau suatu kelompok orang, yang mempunyai wewenang bertindak yang secara sosial diakui. (T.O.Ihromi,1986 : 5). Jadi perbedaan norma hukum dan norma sosial adalah dalam norma hukum, hukum dapat menerapkan penggunaan kekuatan yang ada pada masyarakat yang terorganisasi untuk menghindari atau menghukum pelanggaran terhadap norma sosial. Sanksi yang diberikan atas pelanggaran norma hukum merupakan sanksi tegas yang diberikan oleh pihak berwenang. Sedangkan sanksi norma sosial merupakan sanksi sosial yang diberikan oleh masyarakat, misalnya dikucilkan dari masyarakat dan dicemooh.

2. Mengkaji Kasus Seks Bebas di Kalangan Remaja

Dalam menangani masalah seks bebas ini diperlukan campur tangan pemerintah. Belum adanya peraturan dan sanksi yang jelas mengenai seks bebas ini juga menyebabkan semakin merebaknya penyimpangan seks ini. Oleh karena itu, norma sosial juga diperlukan dalam menyikapi masalah-masalah seperti ini.

Rasa ingin tahu dari para remaja kadang-kadang kurang disertai pertimbangan rasional akan akibat lanjut dari suatu perbuatan. Daya tarik persahabatan antar kelompok, rasa ingin dianggap sebagai manusia dewasa, kaburnya nilai-nilai moral yang dianut, kurangnya kontrol dari pihak yang lebih tua (dalam hal ini orang tua), berkembangnya naluri seks akibat matangnya alat-alat kelamin sekunder, ditambah kurangnya informasi mengenai seks dari sekolah/lembaga formal serta bertubi-tubinya berbagai informasi seks dari media massa yang tidak sesuai dengan norma yang dianut menyebabkan keputusan-keputusan yang diambil mengenai masalah cinta dan seks menjadi keliru. Seks bebas sudah pasti tidak sesuai dan bertentangan dengan norma sosial. Dalam norma sosial, seks bebas di negara-negara seperti Arab, Indonesia, Malaysia, dianggap sebagai tindakan yang amoral. Seks umumnya dinilai sebagai sesuatu yang sakral sehingga perilaku seks bebas dianggap sebagai tindakan yang tabu dan amoral. Pelaku seks bebas umumnya mendapat sanksi dari masyarakat berupa sanksi sosial seperti dikucilkan dari masyarakat dan dicemooh atau dihukum secara hukum adat atau menurut agama. Tetapi di negara-negara barat, tidak sedikit yang menganggap seks bebas bukanlah aib atau hal yang tidak tabu atau amoral.

Tak jauh berbeda dengan hal di atas, dalam ranah norma hukum pun perilaku seks bebas disikapi berbeda-beda. Tiap-tiap negara memiliki pandangan dan regulasi sendiri mengenai seks bebas. Di negeri kita, hal-hal terkait pidana perilaku seks diatur dalam Ketentuan Umum Hukum Pidana (KUHP) dalam pasal 284 tentang perzinahan (overspel). Namun menurut KUHP, perzinahan itu sendiri didefinisikan dengan makna yang lebih sempit dari pengertian zinah sesungguhnya. Perzinahan hanya diartikan sebagai overspel yang maknanya salah satu atau kedua pelaku telah terikat tali perkawinan dengan pasangan yang berbeda. Selama ini hukum hanya mengatur perilaku seks seputar pemerkosaan, pelecehan dan asusila tetapi perilaku seks bebas belum ada yang mengatur. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa perilaku seks bebas remaja tidak bisa dijerat dengan hukum pidana apapun. Namun jelas sekali, bahwa pelaku perilaku seks bebas akan mengalami sangsi lain bernama sangsi moral yang pengeksekusiannya dilakukan oleh masyarakat moral di sekitarnya.

BAB IV KESIMPULAN

Dari penjabaran di atas, terlihat bahwa seorang remaja yang berperilaku seks bebas sebenarnya adalah seorang korban dari sebuah sistem sosial yang tidak mendukung keberadaan perkembangan individu remaja tersebut. Lebih jauh lagi, agama, tradisi, dan budaya, serta pancasila yang seharusnya bisa menjadi ‘pagar’ dan filter bagi remaja-remaja tersebut dalam menjalani kehidupannya tidak tertanamkan dengan baik karena lingkungan sekitarnya tidak berhasil memainkan perannya dengan baik. Keadaan lingkungan yang tidak dapat membantu remaja-remaja tersebut berkembang dengan baik, membuat mereka berusaha mencari lingkungan lain yang dapat mengakui keberadaannya (hakekat sifat dasar remaja) dan dapat mengapresiasi tindakan mereka, dan seringkali lingkungan-lingkungan yang tidak baiklah yang akan menjadi muara perjalanan mereka. Bahkan, sistem hukum yang ada di Indonesia pun tidak dapat memagari remaja-remaja ini dengan baik, sehingga satu-satunya persenjataan yang tersisa untuk memerangi seks bebas di kalangan remaja adalah sangsi sosial.

UCAPAN TERIMA KASIH

Pertama-tama kami hendak mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat yang dilimpahkan-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Berterima kasih juga buat orang tua kami tercinta, dosen MPKT kami Ibu Tuty Handayani, teman-teman kami, serta semua orang yang telah membantu kami dan turut berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai sumber informasi dan bahan pertimbangan tentang kasus seks bebas di kalangan remaja bagi orang-orang yang membacanya.

DAFTAR PUSTAKA

Mubarak, Zakky,dkk. 2010, Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi Buku Ajar II Manusia, Akhlak, Budi Pekerti, dan Masyarakat. Jakarta: Badan Penerbit FKUI

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Tag Cloud